Resensi Novel - Bad Boys
Novel Bad Boys, mencoba memberi gambaran tentang arti
sebuah cinta. Cinta terhadap kekasih, dan cinta terhadap saudara kandung.
Ivy, adik kandung Troy, jatuh cinta kepada Austin, musuh
bebuyutan Troy. Sedangkan Troy yang seorang playboy pernah menjalani kisah kandas dengan
Natasha, adik kandungnya Austin sampai membuat Natasha patah hati. Hal itu
menyebabkan hubungan antara Troy dan Austin semakin buruk.
Berawal dari permusuhan antar SMA Emerald yang dikomandani
Troy, dan SMA Vilmaris yang dipimpin oleh Austin. Sedangkan Ivy menolak keras
sekolah di SMA Emerald, karena sahabatnya, Sophie, melanjutkan sekolah di SMA Vilmaris.
Dengan terpaksa keluarga Ivy memberikan izin untuk melanjutkan sekolahnya di
SMA Vilmaris.
Antar jemput dilakukan Troy dengan menurunkan Ivy jauh dari
pintu gerbang sekolah. Semua dilakukan untuk menghindari perkelahian dan
melindungi Ivy dari ancaman prilaku buruk Austin, seandainya tahu kalau Ivy
adiknya Troy. Sampai pada suatu hari Troy tidak bisa menjemput Ivy dan
mewakilkan pada Lionel, anggota geng Troy. Tapi sayangnya ada seseorang anggota
geng Austin, memergoki Lionel saat menjemput Ivy.
Beruntung Austin mengira Ivy adalah pacarnya Lionel, sehingga Ivy hanya dijadikan pesuruh untuk anggota gengnya yang berjumlah enam belas. Mulai dari membawakan tas, membelikan makanan saat mereka istirahat. Seandainya Austin tahu yang sebenarnya bahwa Ivy adalah adik Troy, mungkin ia akan mendapat perlakuan yang lebih dari itu.
Sebenarnya Ivy keberatan melakukan semua itu, tapi teringat pada Lionel. Austin pasti akan kembali mengancam Lionel kalau sampai Ivy menolak perintahnya. Namun lama-lama kedekatan Ivy dengan Austin menimbulkan rasa suka di hati Ivy. Menurut Ivy, sebenarnya Austin masih punya sisi baik meskipun kadang menyebalkan. Tapi tidak mungkin Ivy berharap lebih, karena setahu Austin dia masih pacarnya Lionel.
Pada saat hari ketika Austin dan Ivy berada di kantin, Ivy memberanikan diri bertanya kepada Austin, sampai kapan ia akan menerima hukuman sebagai pesuruh gengnya. Tak disangka konsekuensinya jika ingin terbebas dari hukuman itu adalah Ivy harus memutuskan Lionel.
Tentu saja Ivy tidak serta merta mau melakukan, ia tidak ingin melukai perasaan Lionel walaupun mereka hanya sekedar pacar pura-pura. Tapi sayang, saat Lionel menjemput Ivy, Austin mengatakan pada Lionel bahwa Ivy akan memutuskannya.
Setelah 'putus'nya hubungan Ivy dan Lionel, Austin sering mengajaknya kencan. Tapi Ivy masih merahasiakan identitasnya sebagai adik Troy. Jadi setiap Austin mengajaknya kencan, Ivy minta dijemput di rumahnya Sophie. Austin tidak pernah tahu kalau itu rumah Sophie, bukan rumah Ivy.
Greta, penggemar Austin, sama sekali tidak menyukai kedekatan antara Ivy dan Austin. Greta membeberkan rahasia terbesar Ivy sebagai adik Troy, dengan cara mengajak Austin untuk menunjukkan rumah Ivy yang sebenarnya. Dan seakan keadaan belum cukup buruk, Troy melangkah keluar dari dalam rumah. Sesaat mereka tidak saling bicara, hanya saling memelototi dengan tangan terkepal erat. (163-164)
Pergulatan perasaan yang hebat bagi Troy, haruskah mengalah pada musuh dengan mengizinkan Ivy menjadi pacar Austin atau mempertahankan ego tapi harus melihat Ivy menangis setiap hari?
Greta, penggemar Austin, sama sekali tidak menyukai kedekatan antara Ivy dan Austin. Greta membeberkan rahasia terbesar Ivy sebagai adik Troy, dengan cara mengajak Austin untuk menunjukkan rumah Ivy yang sebenarnya. Dan seakan keadaan belum cukup buruk, Troy melangkah keluar dari dalam rumah. Sesaat mereka tidak saling bicara, hanya saling memelototi dengan tangan terkepal erat. (163-164)
Pergulatan perasaan yang hebat bagi Troy, haruskah mengalah pada musuh dengan mengizinkan Ivy menjadi pacar Austin atau mempertahankan ego tapi harus melihat Ivy menangis setiap hari?
Bahan bacaan ringan dengan ide cerita yang sangat menarik. Kisah cinta yang tidak hanya
melibatkan perasaan antara laki-laki dan perempuan, tapi juga kisah cinta
terhadap sesama saudara.
Judul :
Bad Boys
Penulis :
Nathalia Theadora
Penerbit :
PT GPU
ISBN :
978-602-03-0662-9
Tahun :
2014
Halaman : 216
Dia tidak
memedulikanku. “Kak Troy seksi banget,” desahnya (48)
Dia memang gila
hormat, tapi sayangnya dia memakai cara yang salah untuk membuat orang hormat
padanya. (81)
Sekarang Austin
ingin aku mengakhiri hubunganku dengan Lionel. Aku tidak tahu kenapa dia ingin
melakukannya, tapi mungkin dia tidak ingin aku punya pacar supaya bisa memilikiku
untuk dirinya sendiri.
Gila memang! Aku
sangat ingin dia menyukaiku sampai-sampai aku bisa berpikir seperti itu. (94)
Troy mendesah. “Padahal
gue udah setuju kalau lo sama Lionel,” katanya. “Gue udah kenal dia sekian lama
dan gue tahu dia akan menjaga lo dengan baik. Tapi kalau emang nggak suka dia,
ya apa boleh buat. Berarti gue harus merelakan lo dengan cowok yang bahkan
nggak gue kenal.”
Lo kenal kok dengan cowok itu, Troy, batinku. Tapi lo nggak akan senang kalau tahu siapa dia. (106)
Lo kenal kok dengan cowok itu, Troy, batinku. Tapi lo nggak akan senang kalau tahu siapa dia. (106)
“Gue nggak akan
ngajak sembarang cewek pergi,” lanjut Austin. (125)
Aku tidak pernah
peduli pada hubungan percintaan Troy sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah
mengenal satu pun cewek yang dia pacari atau hanya sekedar dia ajak berkencan.
Bagiku mereka hanya akan singgah sebentar dalam kehidupan Troy sebelum akhirnya
akan digantikan dengan yang lain. Tapi kini aku jadi bertanya-tanya, ada berapa
banyak cewek yang telah Troy sakiti? (145)
“Gue mau lo jadi
pacar gue dan lo nggak boleh nolak,” kata Austin. “Tapi karena nggak etis kalau
gue ngejadiin lo pacar gue begitu aja, gue akan ngasih lo kesempatan untuk
menjawab.”
“Kalau lo menerima
gue, gue mau lo makan sate ayam itu,” jelas Austin. “Dan kalau lo menolak, lo
harus makan sushi itu.”
Kini giliranku yang mendengus. Dasar licik. Dia tahu aku pasti memilih sate ayam, karena aku membenci shusi dan sampai kapan pun tidak mau memakannya. (151)
Kini giliranku yang mendengus. Dasar licik. Dia tahu aku pasti memilih sate ayam, karena aku membenci shusi dan sampai kapan pun tidak mau memakannya. (151)
Rahang Troy
langsung mengeras. Dia memelototi Austin, dan aku bisa mendengar napasnya
memburu seakan untuk memperlihatkan betapa marah dirinya. (163)
Aku tidak tahan
untuk tidak menggodanya. “Apa nggak ada sate ayam untuk menjawabnya?” (210)

Komentar
Posting Komentar